”Di antara ribuan langkah yang saling bersilang, Allah takdirkan dua hati untuk bertemu dalam satu waktu yang tak disangka.
Pertemuan pertama kami terjadi pada sebuah acara diskusi kampus di Yogyakarta — bukan pertemuan yang penuh drama, melainkan hangat dan sederhana.
Nadya hadir sebagai peserta yang penuh semangat, sementara Fathan datang sebagai pemateri yang kalem dan bersahaja.
Obrolan ringan setelah forum menjadi jembatan pertama dari sebuah perjalanan panjang.
Dari perbincangan seputar buku dan kopi, hingga akhirnya menjadi diskusi tentang impian dan arah hidup.
Waktu berlalu, dan tanpa kami sadari, Allah menumbuhkan rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata — selain bahwa ini adalah bagian dari skenario-Nya.
Kini, kami mantap melangkah, memohon restu dan doa agar pertemuan ini menjadi awal dari ibadah yang paling indah: pernikahan.”
“Awalnya, kami hanyalah dua nama dalam daftar panjang takdir yang belum saling mengenal.
Waktu mempertemukan kami tanpa rencana yang rumit, hanya pertemuan sederhana — namun terasa istimewa.
Perjalanan ini bukan tentang kisah sempurna, tapi tentang dua hati yang saling belajar menerima kekurangan dan tumbuh bersama dalam setiap musim.
Kami mengalami tawa, doa, ragu, lalu kembali yakin — bahwa cinta sejati bukanlah tentang saling menemukan, melainkan saling memilih, setiap hari.
Dengan segala kebersahajaan dan restu dari keluarga, kami mantap melangkah.
Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk saling melengkapi.
Inilah langkah baru kami,
Menuju janji suci yang InsyaAllah akan kekal dalam ridha-Nya.
Kami percaya,
cinta ini bukan hanya untuk hari ini... tapi untuk selamanya.“